Makalah Bimbingan Konseling
DIKTAT
BIMBINGAN DAN KONSELING
Oleh :
Desy Aniqotsunainy,S.Sos.I,S,Pd.I, M.Pd
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MASJID SYUHADA
YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR
Yogyakarta, Mei 2012
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING
BAB II PENGERTIAN BIMBINGAN KONSELING
BAB III METODE BIMBINGAN KONSELING
BAB IV MODEL PELAKSANAAN BK
BAB V PROGRAM BK DI SEKOLAH
BAB 1
PENDAHULUAN
Pengertian Bimbingan dan Konseling
1. Pengertian Bimbingan (guidence)
Menurut Winkel (2005:27) mendefenisikan bimbingan:
a. suatu usaha untuk melengkapi individu dengan pengetahuan, pengalaman dan informasi tentang dirinya sendiri,
b. suatu cara untuk memberikan bantuan kepada individu untuk memahami dan mempergunakan secara efisien dan efektif segala kesempatan yang dimiliki untuk perkembangan pribadinya,
c. sejenis pelayanan kepada individu-individu agar mereka dapat menentukan pilihan, menetapkan tujuan dengan tepat dan menyusun rencana yang realistis, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan memuaskan diri dalam lingkungan dimana mereka hidup,
d. suatu proses pemberian bantuan atau pertolongan kepada individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan
e. konsep dirinya dan tuntutan lingkungan.
proses bantuan yang bertujuan agar seseorang atau sekelompok orang yang dibimbing mampu menghadapi tugas-tugas perkembangan hidupnya secara sadar dan bebas, mewujudkan kesadaran dan kebebasan itu dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana, serta mengambil tindakan penyesuaian diri secara memadai
Key Word :
Bimbingan
Proses kesinambungan
Pilihan /rencana
Diri/lingkungannya
2. Pengertian Konseling
Pengertian konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus. Dengan kata lain, teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli/klien.
Key Word:
Konseling
Kegiatan bagian dari bimbingan
Klien/konseli
Pemecahan masalah
3. Tujuan diberikannya bimbingan dan konseling
a. Tujuan Umum
Tujuan umum dari layanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan UU No 20 Tahun 2003 yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus layanan Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi, sosial, belajar dan karier.
1) Dalam aspek tugas perkembangan pribadi – sosial layanan Bimbingan dan Konseling membantu siswa agar :
a) Memiliki kesadaran diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenal kekhususan yang ada pada dirinya.
b) Dapat mengembangkan sikap positif, seperti menggambarkan orang-orang yang mereka senangi.
c) Membuat pilihan secara sehat
d) Mampu menghargai orang lain
e) Memiliki rasa tanggung jawab
f) Mengembangkan ketrampilan hubungan antar pribadi
g) Dapat menyelesaikan konflik
h) Dapat membuat keputusan secara efektif
2) Layanan Bimbingan dan Konseling membantu siswa agar :
a) Dapat melaksanakan ketrampilan atau belajar secara efektif
b) Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
c) Mampu belajar secara efektif
d) Memiliki ketrampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi/ujian
e) Dalam perkembangan karier, layanan Bimbingan dan Konseling membantu siswa agar :
f) Mampu membentuk identitas karier, mengenali ciri-ciri pekerjaan di dalam lingkungan kerja
g) Mampu merencanakan masa depan
h) Dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier
i) Mengenal ketrampilan, kemampuan dan minat diri sendiri
4. Prinsip-prinsip BK
a. Bimbingan [ Poses membantu
b. Bimbingan [ Siswa centered
c. Bimbingan diarahkan pada perbedaan individu
d. Masalah yang tidak dapat diselesaikan dapat dialih tangankan kepada ahli
e. Bimbingan dimulai dengan identifikasi kebutuhan.
f. Bimbingan harus luwes dan fleksibel.
g. Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan.
h. Pelaksanaan program bimbingan oleh orang yang memiliki keahlian bimbingan dan konseling.
i. Pelaksanaan program BK hendaknya dievaluasi
5, Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling
a. Segi fungsi
1) pemahaman, 2) pencegahan, 3) pengembangan, 4) kuratif (perbaikan), 5) fasilitasi, 6) pemeliharaan, 7) penyaluran, 8) penyesuaian.
b. Segi sasaran
bagi seluruh siswa
c. Segi Layanan
1)pengumpulan data, 2) pemberian informasi, 3) penempatan, 4) layanan lain, 4) alih tangan (referal), 5) penilaian tindak lanjut
d. Segi Masalah
1) Bimbingan pendidikan, 2)bimbingan karir,3) Bimbingan sosial-pribadi-emosional
Berikut penjelasan masing-masing fungsi
1. Segi Fungsi layanan Bimbingan dan Konseling
a. Fungsi pemahaman
Memahami Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkembangan Peserta didik dan membantu mereka untuk memahaminya secara objektif/realistik
b. fungsi preventif (pencegahan)
Memberikan Layanan orientasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah
Beberapa kegiatan bimbingan yang dapat berfungsi pencegahan, antara lain:
a. Program orientasi, yang memberi kesempatan kepada para klien untuk lebih mengenal sekolah sebagai lingkungannya yang baru. Dalam program ini dapat disampaikan berbagai informasi seperti: kurikulum, cara-cara belajar, fasilitas belajar, hubungan sosial, tata tertib sekolah, informasi pekerjaan, dan sebagainya.Program bimbingan karir, yang membantu para klien untuk memperoleh pemahaman diri dan lingkungan yang lebih baik serta mengembangkannya ke arah pencapaian karir yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita, dan kemampuan.
Program pengumpulan data yang memungkinkan diperolehnya data yang lebih lengkap dan tepat yang amat diperlukan guna pemahaman pribadi siswa secara lebih mendalam.
.
c. Fungsi pengembangan
Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembagannya
Bentuk kegiatan bimbingan dan konseling dalam fungsi ini misalnya, bantuan dalam:
1) memperoleh jurusan yang tepat;
2) menyusun program belajar;
3) pengembangan bakat dan minat;
4) perencanaan karir.
4. fungsi kuratif (perbaikan).Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi,sosial, belajar,atau karir)
Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
6. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling
7.Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
8. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif
C Segi Layanan
Dilihat dari layanan yang diberikan, kegiatan bimbingan dan konseling disekolah meliputi layanan-layanan:
1) Pengumpulan data yaitu kegiatan dalam bentuk pengumpulan data pengolahan dan penghimpunan berbagai informasi tentang siswa beserta latar belakangnya. Tujuan layanan ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang objektif terhadap siswa dalam membantu mereka mencapai perkembangan optimal.
2) Pemberian informasi yaitu layanan dalam memberikan sejumlah informasi kepada para siswa. Tujuan layanan ini adalah agar para siswa memiliki informasi yang memadai baik informasi tentang dirinya maupun informasi tentang lingkungan. Informasi yang diterima oleh siswa merupakan bantuan dalam membuat keputusan secara tepat.
3) Penempatan yaitu layanan untuk membantu para siswa agar memperoleh wadah yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Tujuan layanan ini adalah agar setiap siswa dapat mencapai prestasi optimal sesuai dengan potensinya. Setiap siswa diharapkan memperoleh wadah yang tepat untuk mengembangkan segala kemampuan pribadinya.
4) konseling dan bentuk layanan lainnya yaitu layanan kepada para siswa yang menghadapi masalah-masalah pribadi melalui teknik konseling dan teknik pemberian bantuan lainnya. Adapun tujuan layanan ini adalah agar pada akhirnya siswa yang menghadapi masalah pribadi mampu memecahkannya sendiri.
5) Alih tangan (referal), yaitu layanan untuk melimpahkan kepada pihak lain yang lebih mampu dan berwenang apabila masalah yang ditangani itu di luar kemampuan dan kewenangan petugas pemberi bantuan yang terdahulu. Misalnya mengirim siswa ke dokter untuk pemeriksaan kesehatan, pengiriman ke psikolog untuk pemeriksaan psikologis, dan sebagainya.
6) Penilaian dan tindak lanjut yaitu layanan untuk menilai keberhasilan usaha bimbingan yang telah diberikan. Sekaligus secara tidak langsung layanan ini dapat berfungsi untuk menilai keberhasilan program pendidikan secara keseluruhan.
d. Segi masalah
Dilihat dan masalah yang dihadapi para siswa, bimbingan dan konseling di sekolah mencakup:
1. Bimbingan pendidikan yaitu jenis bimbingan yang membantu para siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Yang tergolong masalah-masalah pendidikan misalnya, pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan, cara belajar, perencanaan pendidikan, dan sebagainya.
2) Bimbingan karir yaitu jenis bimbingan yang membantu siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut karir seperti: pemahaman terhadap dunia kerja, perencanaan karir, penyesuaian pekerjaan, pemilihan lapangan kerja, dan pemahaman terhadap keadaan dirinya serta kemungkinan-kemungkinan pengembangan karir.
3) Bimbingan sosial-pribadi-emosional yaitu jenis bimbingan yang membantu para siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi-emosional seperti: masalah pergaulan, penyelesaian konflik, penyesuaian diri, dan sebagainya.
Asas-asas bimbingan konseling
Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.
Tugas Kepala Sekolah terkait dg pelaksanaan BK:
a. Membuat rencana / program sekolah secara menyeluruh
b. Mendelegasikan tanggung jawab tertentu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
c. Mengawasi pelaksanaan program
d. Melengkapi dan menyediakan kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling
e. Mengadakan hubungan dengan berbagai lembaga di luar sekolah dalam rangka kerjasama pelaksanaan bimbingan konseling
f. Mengkoordinasikan kegiatan bimbingan dengan kegiatan-kegiatan lainnya.
Tugas Konselor Sekolah:
a. Menyusun program bimbingan konseling bersama kepala sekolah
b. Bertanggung jawab terhadap jalannya program
c. Mengkoordinasikan laporan kegiatan pelaksanaan program sehari-hari
d. Memberikan laporan kegiatan kepada kepala sekolah
e. Menyelenggarakan pertemuan dengan staf bimbingan
f. Melaksanakan bimbingan kelompok, konseling kelompok dan konseling individual
g. Memberikan layanan oreantasi dan informasi bagi siswa
h. Bekerjasama dengan wali kelas mengadakan kunjungan rumah (home visit)
i. Menyelenggarakan pembicaraan kasus (case confrencet)
j. Menyelenggarakan program latihan bagi para petugas BK
k. Mengadakan wawancara dengan siswa
l. Memberi konsultasi kepada guru dan wali kelas dalam pemecahan masalah siswa
m. Melakukan referal( alih tangan kasus) kepada ahli yang berwenang.
Tugas Wali kelas
a. Mengumpulkan data tentang siswa
b. Meneliti kemajuan dan perkembangan siswa ( akademis, sosial, fisik, pribadi)
c. Mengawasi kegiatan siswa sehari-hari
d. Bekerjasama dengan konselor menyalurkan dan menempatkan siswa
e. Bekerja sama dengan konselor dalam membuat sisiogram
f. Bekerjasama dengan konselor sekolah dalam mengadakan pemeriksaan psikologis dan kesehatan oleh tim ahli
g. Mengidentifikasi siswa yang memerlukan bantuan
h. Membantu memecahkan masalah siswa asuhnya
i. Ikut serta dalam pertemuan kasus
Tugas Guru Mata pelajaran
a. Turut serta aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program BK.
b. Memberikan informasi tentang siswa kepada staf bimbingan dan konseling.
c. Memberikan pelayanan intruksional
d. Berpartisipasi dalam studi kasus
e. Memberikan informasi kepada siswa terkait dengan mata pelajaran yang diampunya, misalnya cara belajar bahasa inggris, matematika dsb.
f. Meneliti kesulitan dan kemajuan siswa
g. Menilai kemajuan belajar siswa
h. Mengadakan hubungan dengan orang tua siswa.
i. Bekerja sama dengan konselor sekolah dalam pengumpulan data siswa dan mengidentifikasi masalah
BAB III
METODE BIMBINGAN DAN KONSELING
Metode langsung (metode komunikasi langsung) adalah metode di mana pembimbing melakukan komunikasi langsung (bertatap muka) dengan orang yang dibimbingnya.
Pembimbing dalam hal ini melakukan komunikasi langsung secara individual dengan pihak yang dibimbingnya. Hal ini dapat dilakukan dengan mempergunakan teknik:
A. Bimbingan dan Konseling Individu
1. Percakapan pribadi (wawancara), yakni pembimbing melakukan dialog langsung tatap muka dengan pihak yang dibimbing;
a. Tujuan: self integration, self direction, responsibility
b. Konselor menciptakan situasi penerimaan & permisif
c. Klien dibantu mencermati & peka terhadap perasaan & sikapnya
d. Menjamin privasi & kerahasiaan klien
Syarat-syarat konselor kepada konseli:
e. Komunikatif
f. Kepercayaan
g. Perasaan aman
h. Pertanyaan tidak menyinggung
i. Waktu yang longgar
j. Menyimpan rahasia
d. Kunjungan ke rumah (home visit), yakni pembimbing mengadakan dialog dengan kliennya tetapi dilaksanakan di rumah klien sekaligus untuk mengamati keadaan rumah klien dan lingkungannya;
e. Kunjungan dan observasi kerja, yakni pembimbing / konseling melakukan percakapan individual sekaligus megamati kerja klien dan lingkungannya.
B. Bimbingan dan Konseling Kelompok
Pembimbing melakukan komunikasi langsung dengan klien dalam kegiatan kelompok. Terjadinya komunikasi timbal balik antara konseli dalam melakukan hubungan interpersonal satu sama lain dan bergaul pada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan pembinaan pribadi masing-masing.
Hal ini dapat dilakukan dengan teknik-teknik:
1. Diskusi kelompok, yakni pembimbing melaksanakan bimbingan dengan cara mengadakan diskusi dengan / bersama kelompok klien yang mempunyai masalah yang sama.
2. Karya wisata, yakni bimbingan kelompok yang dilakukan secara langsung dengan mempergunakan ajang karya wisata sebagai forumnya.
3. Group teaching, yakni pemberian bimbingan / konseling dengan memberikan materi bimbingan / konseling tertentu kepada kelompok yang telah disiapkan.
Nilai lebih BK yaitu Klien belajar:
a. Memahami orang lain dan cara pandangnya
b. Mengembangkan penghargaan yang lebih dalam pada orla, terutama yang berbeda dengan dirinya
c. Mencapai ketrampilan sosial yang lebih besar
d. Berbagi dengan orang lain
e. Memperjelas masalah, pikiran, nilai dan ide melalui diskusi dengan orang lain
2. Proses BK kelompok
a. Tahap pembentukan kelompok (anggota kelompok)
Pemilihan anggota
1) Tujuan: agar tidak ada anggota yang mundur di tengah jalan
2) Syarat: memiliki kesamaan tema & taraf permasalahan, tujuan, usia/kematangan
3) Catatan: orang yang terlalu agresif, pemalu & memiliki gangguan penyesuaian diri berat tidak dapat dimasukkan kelompok
4) Besarnya kelompok: 6-12 orang/ klp
5) Rancangan frekuensi pertemuan: 1-2 kali seminggu
6) Lama sesi: anak F 30 -45 menit, remaja & dewasa F 90 menit
b. Tahap Involvement
1) Mempersiapkan anggota: perkenalan, interview awal
2) Konselor menjelaskan aturan main agar kelompok dapat berfungsi baik
3) Menentukan apakah kelompok bersifat terbuka/tertutup dan apakah keanggotaannya bersifat sukarela/ terpaksa
4) Tahap Transisi : merupakan tahap yang penuh konflik karena masing-masing klien masih menyesuaikan diri dengan anggota lainnya
5) .Tahap terapi (working stage): kelompok mulai kohesif (berpadu), kerjasama dapat dilakukan, masing-masing anggota sudah dapat memahami/ berempati pada anggota lain
6) Tahap akhir (ending stage): rangkuman /kesan/pesan dilakukan jika semua masalah telah selesai
BAB IV
MODEL-MODEL PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING
Teori yang mendasari model pelaksanaan bimbingan dan konseling kelompok:
A. Konseling Behavior
Tokoh yang bernama Arnold Lazarus, Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian utama dari para konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling.
B. Ciri-ciri Konseling Behavior
1 Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat dirubah.
2. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu dalam merubah perilaku-perilaku yang relevan; prosedurprosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku klien dengan merubah lingkungan.
3. Prinsip-prinsip belajar sosial, seperti misalnya “reinforcement” dan “social modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
4. Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan dalam perilaku-perilaku khusus klien diluar wawancara konseling.
5. Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap, atau ditentukan sebelumnya, tetapi dapat secara khusus didisain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus
Metode konseling behavior
(1) Operant Learning, pendekatan operant learning yang paling penting adalah penguatan (reinforcement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki
(2) Cognitive Learning, metode ini lebih menekankan pada aspek perubahan kognitif klien dalam upaya membentu klien dalam memecahkan masalahnya.
(3) Emotional learning, metode ini lebih menekankan aspek perubahan emosional klien
C. Operant Learning
Dalam menerapkan penguatan ini ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu:
(1) penguatan yang di terapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien,
(2) penguatan hendaknya dilaksanakan secara sistematis,
(3) konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana memberikan penguatan, dan
(4) konselor harus dapat merancang perilaku yang memerlukan penguatan.
Kognitif Learning :
Tujuan utama dalam metode kognitif adalah :
(1) membangkitkan pikiran-pikiran pasien, dialog internal atau bicara diri (self talk), dan interpretasi terhadap kehadian-kejadian yang dialami,
(2) konselor bersama klien mengumpulkan bukti yang mendukung atau menyanggah interpretasi yang telah diambil,
(3) menyusun dengan eksperimen (pekerjaan rumah) untuk menguji validitas interpretasi dan menjaring data tambahan untuk diskusi didalam proses perlakuan konseling.
Teknik Behavioristik
(1). Reinforment, digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal ataupun punishment,
(2) Social modeling, digunakan untuk menggambarkan perilaku –perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah
Rational-Emotive Therapy
Tokoh : ALBERT ELLIS
Konsep dasar teori ini adalah bahwa pola berpikir manusia itu sangat dipengaruhi oleh emosi, demikian pula sebaliknya.
Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan atau sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik. Sedangkan pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu pikiran seseorang
TRE beranggapan bahwa setiap manusia yang normal memiliki pikiran, perasaan dan perilaku yang ketiganya berlangsung secara simultan.
Pikiran mempengaruhi perasaan dan perilaku, perasaan mempengaruhi pikiran dan perilaku, perilaku mempengaruhi pikiran dan perasaan.
`3 Pilar yang membangun tingkah laku individu
a. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
b. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain.
c. Contoh : Perceraian dalam keluarga, kelulusan bagi siswa, dan putus hubungan
d. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB).
e. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan karena itu menjadi produktif .
f. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan karena itu tidak produktif.
g. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A).
h. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Tehnik emotif
Asertive training; digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan pola perilaku sesuai dengan yang diinginkannya,
(2) sosiodrama; digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan klien (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas mengungkapan dirinya sendiri baik secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis,
(3) self modeling, digunakan dengan meminta klien untuk berjanji atau mengadakan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
(4) imitasi, digunakan dimana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi perilakunya sendiri yang negatif.
Contoh Kasus : Siswanto sorang siswa suatu SMA di kota besar, program studi IPS. Dia tinggal bersama orang tuanya, yang mendukung cita-citanya menjadi seorang guru akutansi. Nilai rapornya rata-rata minimal 7. dalam usaha ini ia berhasil. Selain itu dia juga berhasil mengikat hati sorang siswi yang duduk dikelas yang sama, mereka backstreet karena orang tuanya belum mengizinkan berpacaran. Suatu saat orang tua siswi itu mengetahui hubungan mereka. Dan siswi itu memutuskan hubungan mereka. Siswanto jatuh ke lebah depresi dan berfikir : “apa gunanya meneruskan hidup di dunia ini?Akhirnya dia membolos sekolah seminggu. Ketika ia masuk kesekolah ia di panggil guru konselor
Langkah-langkah kerja :
1. Membangun hubungan pribadi dengan klien.
2. Mendengarkan dengan penuh perhatian ungkapan dan pikiran prabawa. Semangat belajarnya kurang karena ia diputuskan oleh pacarnya. Siswanto mengungkapkan masa depannya sangat suram dan tidak ada sumber inspirasi lagi yang mendukung cita-citanya menjadi guru akutansi (pikiran irrasional)
3. Mengadakan analisis kasus, mencari kaitan A,B,C
– kejadian yang dialami adalah terputusnya percintaan dengan gadis yang dikaguminya; yang memutuskan hubungan ialah pihak putri, dengan alasan dilarang ortu (A)
– kejadian ini ditanggapi pikiran irrasional (tidak masuk akal): “ini musibah besar, masa depan suram, siapa lagi yang memberi inspirasi kepadaku? (B.irasional)
– Sebagai akibat berfikir demikian, Siswanto mengalami gejolak emosinal. Seperti kehilangan semangat hidup, gairah belajar, putus asa (C.dalam alam perasaan).akibatnya ia bolos sekolah (C.perilaku nyata)
– Membantu Siswanto untuk menemukan Jalan keluar. Efek dari diskusi, Siswanto berubah pikiran dan memandang pengalaman ini dengan cara yang masuk akal.
– 5. Mengakhiri hubungan pribadi dengan Siswanto
BAB V
PROGRAM BK Di SEKOLAH
Berikut siklus yang tergambar dalam hubungan siswa kepada orang lain :
The caring teachers :
1. Respecfull
2. Understanding
3. Caring
4. Trustworthly
5. Accepting
6. Friendly
A. Need assessment (penilaian kebutuhan )
1. Penelaahan kebutuhan adalah proses analisis kesenjangan (jarak) antara keadaan atau posisi bimbingan atau konseling saat ini dan apa yang seharusnya ada. Penelahaan kebutuhan sering dikelompokan ke dalam dua kategori umum:
2. Penelahaan Kebutuhan Eksternal. Melihat kesenjangan antara outcome, sementara penelaahan kebutuhan internal mengidentifikasi kesenjangan dalam input, proses, produk dan output.
3. Penelahaan Kebutuhan Subjek Sasaran akan Bimbingan dan Konseling secara Internal.
4. Elemen-elemen pendidikan secara internal seharusnya dihubungkan kepada usaha-usaha organisasi
5. sekolah, yakni mengenai masalah input, masalah prosesnya serta hasil-hasil yang ingin dicapai, baik
6. berupa produk maupun output.
Langkah-langkah penelaahan kebutuhan yaitu : Mengidentifikasi apa yang ada, Mengidentifikasi apa yang seharusnya ada
a. Mempertemukan perbedaan antara apa yang ada dan seharusnya ada dalam sebuah matriks
b. Mengurutkan kebutuhan dalam skala prioritas
B. Tahap pelaksanaan
Tahap ini ditandai dengan:
1. Usaha guru pembimbing dengan kesungguhannya membimbing subjek (siswa).
2. Peran serta pihak-pihak pelaksana yang terkait secara sporadis terjadi dan dapat diamati.
3. Siswa mulai merasa bahwa ia (mereka) mendapat perhatian.
4. Ciri-ciri di atas diiringi oleh beberapa hambatan dan kesulitan, antara lain kesiapan siswa dan
5. personil pelaksana terutama dari pihak guru mata pelajaran, wali kelas dan seterusnya, begitu
6. memasuki kegiatan belajar mengajar catur wulan baru.
C. Tahap evaluais program
1. Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan. Karena tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengambil keputusan, maka konselor perlu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan hal-hal yang akan dievaluasi. Pertanyaan-pertanyaan itu pada dasarnya terkait dua aspek pokok yang dievaluasi yaitu : (1) tingkat keterlakasanaan program (aspek proses) dan (2) tingkat ketercapaian tujuan program (aspek hasil).
2. Mengembangkan atau menyusun instrumen pengumpul data. Untuk memperoleh data yang diperlukan yaitu mengenai tingkat keterlakasanaan dan ketercapaian program, maka konselor perlu menyusun instrumen yang relevan dengan kedua aspek tersebut. Instumen itu diantaranya inventori, angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan studi dokumentasi.
3. Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah data diperoleh maka data itu dianalisis, yaitu menelaah tentang program apa saja yang telah dan belum dilaksanakan, serta tujuan mana daja yang telah dan belum tercapai.
4. Melakukan tindak lanjut (follow up). Berdasarkan temuan yang diperoleh, maka dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan ini dapat meliputi dua kegiatan yaitu (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat atau kurang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai dan (2) mengembangkan program, dengan cara merubah atau menambah beberapa hal yanh dipandang dapat meningkatkan efektivitas atau kualitas program.
D. Menilai proses dan hasil
1. Mengembangkan Alat Ukur
Mengembangkan alat ukur atau instrumen dalam penanganan, mirip dengan mengembangkan alat ukur dalam mengukur hasil belajar, karena memang sumber pengembangannya berasal dari referensi yang sama, dengan penyesuaian-penyesuaian seperlunya. Oleh karena itu, ada sejumlah langkah yang harus ditempuh dalam menyusun alat ukur.
Langkah tersebut antara lain:
a. Menentukan sasaran penilaian. Maksudnya adalah apa tujuan dari penilaian, yakni ada sesuatu yang diinginkan yang perlu ditunjukkan oleh subjek (siswa).
b. Membuat tabel kisi-kisi. Maksudnya, mencanangkan tentang:
Ø rincian tujuan atau sasaran yang ingin dicapai.
Ø Rincian kegiatan bidang bimbingan.
Ø Materi pokok/sub materi pokok.
Ø Indikatornya.
Ø Teknik yang digunakan.
Ø Sumber data.
c. Membuat butir-butir alat ukur
2. Pembagian alat-alat tes menurut isi :
a. Tes hasil belajar
b. Tes kemampuan intelektual (intelligence test)
c. Tes kemampuan khusus (Vokasi, musikal,artistik dll)
d. Tes minat
e. Tes kepribadian
3. Alat-alat nontes
1. Angket tertulis
2. Wawancara informasi
3. Otobiografi (karangan yang ditulis oleh siswa mengenai riwayat hidupnya sampai sekarang
4. Anekdota (laporan singkat tentang prilaku sesorang pada saat tertentu)
5. Skala penilaian (skala numerik, skala penilaian grafis, daftar cek)
6. Sosiometri (memperoleh data hubungan sosial skala kecil/sedang)
7. Kunjungan rumah
8. Kartu pribadi
9. Studi kasus
E. Program BK
Program bimbingan dan konseling merupakan kegiatan layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilaksanakan pada periode tertentu
1. Materi program
Adalah Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode berisikan materi yang merupakan sinkronisasi dari unsur-unsur :
a. Tugas perkembangan siswa yang mendapatkan layanan
b. Bidang-bidang bimbingan (bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir)
c. Jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. ( layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok) dan konseling kelompok.
d. Materi-materi tersebut yang meliputi juga materi pendidikan budi pekerti, mengarah kepada pemahaman diri siswa dan lingkungannya. Serta pengembangan diri dan arah karir siswa
1) Sasaran : siswa yang akan dilibatkan dalam kegiatan
2) Tujuan : dirumuskan dalam bentuk kompetensi
3) Materi : isi kegiatan yang dapat mengarahkan tercpapainya kompetensi yang dimaksudkan
4) Metode : cara yang akan ditempuh untuk tercapainya kompetensi yang dimaksudkan
5) Waktu : kapan kegiatan dilakukan
6) Tempat : dimana kegiatan dilakukan
7) Penilaian : bagaimana hasil kegiatan dapat diukur dan diketahui
(a) Penilaian segera (laiseg), merupakan penilaian tahap awal yang dilakukan segera setelah atau menjelang diakhirnya layanan yang dimaksud.
b) Penilaian jangka pendek (laijapen), merupakan penilaian lanjutan yang dilakukan setelah satu (atau lebih) jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai paling lama satu bulan.
c) Penilaian jangka panjang (laijapang), merupakan penilaian lebih menyeluruh setelah dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu semester
DAFTAR PUSTAKA
Robert Gibson & Marianne. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010
Richard Nelson-Jones. Pengantar keterampilan Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012
Thohari Musnamar. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling Islami. Yogyakarta: UII Press, 1992
Ws.Winkel dan Sri Hastuti. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi: 2005
BIMBINGAN DAN KONSELING
Oleh :
Desy Aniqotsunainy,S.Sos.I,S,Pd.I, M.Pd
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MASJID SYUHADA
YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr, wb.
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke
hadirat Allah SWT. Diktat Bimbingan konseling ini dapat dipergunakan khususnya
bagi Mahasiswa STAIMS YOGYAKARTA.
Diktat BIMBINGAN DAN KONSELING sebagai bentuk pelayanan pendidikan dalam menangani tantangan dan kesulitan dalam proses belajar mengajar berbagai definisi bimbingan konseling mengarah pada pelayanan bimbingan yang difokuskan pada generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah; tahap pendidikan sekolah lanjutan dan perguruan tinggi.
Penulis menyadari bahwa diktat ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu kepada para pembaca dan pakar dimohon saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan diktat ini pada terbitan selanjutnya.
Semoga diktat ini bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.
Amin Ya Rabbal “Alamin
Diktat BIMBINGAN DAN KONSELING sebagai bentuk pelayanan pendidikan dalam menangani tantangan dan kesulitan dalam proses belajar mengajar berbagai definisi bimbingan konseling mengarah pada pelayanan bimbingan yang difokuskan pada generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah; tahap pendidikan sekolah lanjutan dan perguruan tinggi.
Penulis menyadari bahwa diktat ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu kepada para pembaca dan pakar dimohon saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan diktat ini pada terbitan selanjutnya.
Semoga diktat ini bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.
Amin Ya Rabbal “Alamin
Yogyakarta, Mei 2012
Peyusun
DAFTAR ISIKATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING
BAB II PENGERTIAN BIMBINGAN KONSELING
BAB III METODE BIMBINGAN KONSELING
BAB IV MODEL PELAKSANAAN BK
BAB V PROGRAM BK DI SEKOLAH
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang diperlukannya Bimbingan dan konseling
Pemikiran dasar diperlukannya bimbingan dan
konseling mengarah pada sifat khas yaitu memberikan pelayanan atau bantuan yang
diberikan kepada orang yang membutuhkan bantuan. Melihat sejarah adanya bimbingan
dan konseling maka terdapat latar belakang diperlukannya pelayanan tersebut
dalam sudut pandang luas sebagai berikut : pertama, latar belakang
sosiokultural. Perubahan dalam masyarakat menimbulkan permasalahan yang
dihadapi oleh individu, misalnya, pengangguran, syarat-syarat pekerjaan,
penyesuaian diri, jenis dan kesempatan pendidikan, perencanaan dan pemilihan
pendidikan, masalah hubungan sosial, masalah keluarga, keuangan, masalah
pribadi. Kedua, latar belakang pedagogis. Secara akademis masih nampak gejala
bahwa anak didik belum mencapai prestasi belajar secara optimal. Hal ini nampak
antara lain dalam gejala-gejala: putus sekolah, tinggal kelas, lambat belajar,
berprestasi rendah, kekurang-percayaan masyarakat terhadap hasil pendidikan.
Ketiga, latar belakang psikologis. Secara psikologis masih banyak adanya
gejala-gejala perkembangan kepribadian yang kurang matang, kurang percaya pada
diri sendiri, kecemasan, putus asa, bersikap santai, kurang responsif,
ketergantungan, pribadi yang tidak seimbang, dan sebagainya
Pemberian pelayanan bimbingan dan konseling dan
pengajaran memiliki keterkaitan yang bersifat komplementer dan kolaboratif.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu
komponen dlm keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah; guru sebagai
salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab
sebagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, dituntut
untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep-konsep dasar bimbingan dan
konseling di sekolah. Konselor pendidikan adalah konselor yang bertugas dan
bertanggungjawab memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta
didik di satuan pendidikan. Klien/konseli adalah seseorang yang dibimbing oleh
konselor.
BAB IIPengertian Bimbingan dan Konseling
1. Pengertian Bimbingan (guidence)
Menurut Winkel (2005:27) mendefenisikan bimbingan:
a. suatu usaha untuk melengkapi individu dengan pengetahuan, pengalaman dan informasi tentang dirinya sendiri,
b. suatu cara untuk memberikan bantuan kepada individu untuk memahami dan mempergunakan secara efisien dan efektif segala kesempatan yang dimiliki untuk perkembangan pribadinya,
c. sejenis pelayanan kepada individu-individu agar mereka dapat menentukan pilihan, menetapkan tujuan dengan tepat dan menyusun rencana yang realistis, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan memuaskan diri dalam lingkungan dimana mereka hidup,
d. suatu proses pemberian bantuan atau pertolongan kepada individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan
e. konsep dirinya dan tuntutan lingkungan.
proses bantuan yang bertujuan agar seseorang atau sekelompok orang yang dibimbing mampu menghadapi tugas-tugas perkembangan hidupnya secara sadar dan bebas, mewujudkan kesadaran dan kebebasan itu dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana, serta mengambil tindakan penyesuaian diri secara memadai
Key Word :
Bimbingan
Proses kesinambungan
Pilihan /rencana
Diri/lingkungannya
2. Pengertian Konseling
Pengertian konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus. Dengan kata lain, teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli/klien.
Key Word:
Konseling
Kegiatan bagian dari bimbingan
Klien/konseli
Pemecahan masalah
3. Tujuan diberikannya bimbingan dan konseling
a. Tujuan Umum
Tujuan umum dari layanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan UU No 20 Tahun 2003 yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus layanan Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi, sosial, belajar dan karier.
1) Dalam aspek tugas perkembangan pribadi – sosial layanan Bimbingan dan Konseling membantu siswa agar :
a) Memiliki kesadaran diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenal kekhususan yang ada pada dirinya.
b) Dapat mengembangkan sikap positif, seperti menggambarkan orang-orang yang mereka senangi.
c) Membuat pilihan secara sehat
d) Mampu menghargai orang lain
e) Memiliki rasa tanggung jawab
f) Mengembangkan ketrampilan hubungan antar pribadi
g) Dapat menyelesaikan konflik
h) Dapat membuat keputusan secara efektif
2) Layanan Bimbingan dan Konseling membantu siswa agar :
a) Dapat melaksanakan ketrampilan atau belajar secara efektif
b) Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
c) Mampu belajar secara efektif
d) Memiliki ketrampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi/ujian
e) Dalam perkembangan karier, layanan Bimbingan dan Konseling membantu siswa agar :
f) Mampu membentuk identitas karier, mengenali ciri-ciri pekerjaan di dalam lingkungan kerja
g) Mampu merencanakan masa depan
h) Dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier
i) Mengenal ketrampilan, kemampuan dan minat diri sendiri
4. Prinsip-prinsip BK
a. Bimbingan [ Poses membantu
b. Bimbingan [ Siswa centered
c. Bimbingan diarahkan pada perbedaan individu
d. Masalah yang tidak dapat diselesaikan dapat dialih tangankan kepada ahli
e. Bimbingan dimulai dengan identifikasi kebutuhan.
f. Bimbingan harus luwes dan fleksibel.
g. Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan.
h. Pelaksanaan program bimbingan oleh orang yang memiliki keahlian bimbingan dan konseling.
i. Pelaksanaan program BK hendaknya dievaluasi
5, Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling
a. Segi fungsi
1) pemahaman, 2) pencegahan, 3) pengembangan, 4) kuratif (perbaikan), 5) fasilitasi, 6) pemeliharaan, 7) penyaluran, 8) penyesuaian.
b. Segi sasaran
bagi seluruh siswa
c. Segi Layanan
1)pengumpulan data, 2) pemberian informasi, 3) penempatan, 4) layanan lain, 4) alih tangan (referal), 5) penilaian tindak lanjut
d. Segi Masalah
1) Bimbingan pendidikan, 2)bimbingan karir,3) Bimbingan sosial-pribadi-emosional
Berikut penjelasan masing-masing fungsi
1. Segi Fungsi layanan Bimbingan dan Konseling
a. Fungsi pemahaman
Memahami Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkembangan Peserta didik dan membantu mereka untuk memahaminya secara objektif/realistik
b. fungsi preventif (pencegahan)
Memberikan Layanan orientasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah
Beberapa kegiatan bimbingan yang dapat berfungsi pencegahan, antara lain:
a. Program orientasi, yang memberi kesempatan kepada para klien untuk lebih mengenal sekolah sebagai lingkungannya yang baru. Dalam program ini dapat disampaikan berbagai informasi seperti: kurikulum, cara-cara belajar, fasilitas belajar, hubungan sosial, tata tertib sekolah, informasi pekerjaan, dan sebagainya.Program bimbingan karir, yang membantu para klien untuk memperoleh pemahaman diri dan lingkungan yang lebih baik serta mengembangkannya ke arah pencapaian karir yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita, dan kemampuan.
Program pengumpulan data yang memungkinkan diperolehnya data yang lebih lengkap dan tepat yang amat diperlukan guna pemahaman pribadi siswa secara lebih mendalam.
.
c. Fungsi pengembangan
Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembagannya
Bentuk kegiatan bimbingan dan konseling dalam fungsi ini misalnya, bantuan dalam:
1) memperoleh jurusan yang tepat;
2) menyusun program belajar;
3) pengembangan bakat dan minat;
4) perencanaan karir.
4. fungsi kuratif (perbaikan).Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi,sosial, belajar,atau karir)
Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
6. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling
7.Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
8. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif
C Segi Layanan
Dilihat dari layanan yang diberikan, kegiatan bimbingan dan konseling disekolah meliputi layanan-layanan:
1) Pengumpulan data yaitu kegiatan dalam bentuk pengumpulan data pengolahan dan penghimpunan berbagai informasi tentang siswa beserta latar belakangnya. Tujuan layanan ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang objektif terhadap siswa dalam membantu mereka mencapai perkembangan optimal.
2) Pemberian informasi yaitu layanan dalam memberikan sejumlah informasi kepada para siswa. Tujuan layanan ini adalah agar para siswa memiliki informasi yang memadai baik informasi tentang dirinya maupun informasi tentang lingkungan. Informasi yang diterima oleh siswa merupakan bantuan dalam membuat keputusan secara tepat.
3) Penempatan yaitu layanan untuk membantu para siswa agar memperoleh wadah yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Tujuan layanan ini adalah agar setiap siswa dapat mencapai prestasi optimal sesuai dengan potensinya. Setiap siswa diharapkan memperoleh wadah yang tepat untuk mengembangkan segala kemampuan pribadinya.
4) konseling dan bentuk layanan lainnya yaitu layanan kepada para siswa yang menghadapi masalah-masalah pribadi melalui teknik konseling dan teknik pemberian bantuan lainnya. Adapun tujuan layanan ini adalah agar pada akhirnya siswa yang menghadapi masalah pribadi mampu memecahkannya sendiri.
5) Alih tangan (referal), yaitu layanan untuk melimpahkan kepada pihak lain yang lebih mampu dan berwenang apabila masalah yang ditangani itu di luar kemampuan dan kewenangan petugas pemberi bantuan yang terdahulu. Misalnya mengirim siswa ke dokter untuk pemeriksaan kesehatan, pengiriman ke psikolog untuk pemeriksaan psikologis, dan sebagainya.
6) Penilaian dan tindak lanjut yaitu layanan untuk menilai keberhasilan usaha bimbingan yang telah diberikan. Sekaligus secara tidak langsung layanan ini dapat berfungsi untuk menilai keberhasilan program pendidikan secara keseluruhan.
d. Segi masalah
Dilihat dan masalah yang dihadapi para siswa, bimbingan dan konseling di sekolah mencakup:
1. Bimbingan pendidikan yaitu jenis bimbingan yang membantu para siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Yang tergolong masalah-masalah pendidikan misalnya, pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan, cara belajar, perencanaan pendidikan, dan sebagainya.
2) Bimbingan karir yaitu jenis bimbingan yang membantu siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut karir seperti: pemahaman terhadap dunia kerja, perencanaan karir, penyesuaian pekerjaan, pemilihan lapangan kerja, dan pemahaman terhadap keadaan dirinya serta kemungkinan-kemungkinan pengembangan karir.
3) Bimbingan sosial-pribadi-emosional yaitu jenis bimbingan yang membantu para siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi-emosional seperti: masalah pergaulan, penyelesaian konflik, penyesuaian diri, dan sebagainya.
Asas-asas bimbingan konseling
Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.
Tugas Kepala Sekolah terkait dg pelaksanaan BK:
a. Membuat rencana / program sekolah secara menyeluruh
b. Mendelegasikan tanggung jawab tertentu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
c. Mengawasi pelaksanaan program
d. Melengkapi dan menyediakan kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling
e. Mengadakan hubungan dengan berbagai lembaga di luar sekolah dalam rangka kerjasama pelaksanaan bimbingan konseling
f. Mengkoordinasikan kegiatan bimbingan dengan kegiatan-kegiatan lainnya.
Tugas Konselor Sekolah:
a. Menyusun program bimbingan konseling bersama kepala sekolah
b. Bertanggung jawab terhadap jalannya program
c. Mengkoordinasikan laporan kegiatan pelaksanaan program sehari-hari
d. Memberikan laporan kegiatan kepada kepala sekolah
e. Menyelenggarakan pertemuan dengan staf bimbingan
f. Melaksanakan bimbingan kelompok, konseling kelompok dan konseling individual
g. Memberikan layanan oreantasi dan informasi bagi siswa
h. Bekerjasama dengan wali kelas mengadakan kunjungan rumah (home visit)
i. Menyelenggarakan pembicaraan kasus (case confrencet)
j. Menyelenggarakan program latihan bagi para petugas BK
k. Mengadakan wawancara dengan siswa
l. Memberi konsultasi kepada guru dan wali kelas dalam pemecahan masalah siswa
m. Melakukan referal( alih tangan kasus) kepada ahli yang berwenang.
Tugas Wali kelas
a. Mengumpulkan data tentang siswa
b. Meneliti kemajuan dan perkembangan siswa ( akademis, sosial, fisik, pribadi)
c. Mengawasi kegiatan siswa sehari-hari
d. Bekerjasama dengan konselor menyalurkan dan menempatkan siswa
e. Bekerja sama dengan konselor dalam membuat sisiogram
f. Bekerjasama dengan konselor sekolah dalam mengadakan pemeriksaan psikologis dan kesehatan oleh tim ahli
g. Mengidentifikasi siswa yang memerlukan bantuan
h. Membantu memecahkan masalah siswa asuhnya
i. Ikut serta dalam pertemuan kasus
Tugas Guru Mata pelajaran
a. Turut serta aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program BK.
b. Memberikan informasi tentang siswa kepada staf bimbingan dan konseling.
c. Memberikan pelayanan intruksional
d. Berpartisipasi dalam studi kasus
e. Memberikan informasi kepada siswa terkait dengan mata pelajaran yang diampunya, misalnya cara belajar bahasa inggris, matematika dsb.
f. Meneliti kesulitan dan kemajuan siswa
g. Menilai kemajuan belajar siswa
h. Mengadakan hubungan dengan orang tua siswa.
i. Bekerja sama dengan konselor sekolah dalam pengumpulan data siswa dan mengidentifikasi masalah
BAB III
METODE BIMBINGAN DAN KONSELING
Metode langsung (metode komunikasi langsung) adalah metode di mana pembimbing melakukan komunikasi langsung (bertatap muka) dengan orang yang dibimbingnya.
Pembimbing dalam hal ini melakukan komunikasi langsung secara individual dengan pihak yang dibimbingnya. Hal ini dapat dilakukan dengan mempergunakan teknik:
A. Bimbingan dan Konseling Individu
1. Percakapan pribadi (wawancara), yakni pembimbing melakukan dialog langsung tatap muka dengan pihak yang dibimbing;
a. Tujuan: self integration, self direction, responsibility
b. Konselor menciptakan situasi penerimaan & permisif
c. Klien dibantu mencermati & peka terhadap perasaan & sikapnya
d. Menjamin privasi & kerahasiaan klien
Syarat-syarat konselor kepada konseli:
e. Komunikatif
f. Kepercayaan
g. Perasaan aman
h. Pertanyaan tidak menyinggung
i. Waktu yang longgar
j. Menyimpan rahasia
d. Kunjungan ke rumah (home visit), yakni pembimbing mengadakan dialog dengan kliennya tetapi dilaksanakan di rumah klien sekaligus untuk mengamati keadaan rumah klien dan lingkungannya;
e. Kunjungan dan observasi kerja, yakni pembimbing / konseling melakukan percakapan individual sekaligus megamati kerja klien dan lingkungannya.
B. Bimbingan dan Konseling Kelompok
Pembimbing melakukan komunikasi langsung dengan klien dalam kegiatan kelompok. Terjadinya komunikasi timbal balik antara konseli dalam melakukan hubungan interpersonal satu sama lain dan bergaul pada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan pembinaan pribadi masing-masing.
Hal ini dapat dilakukan dengan teknik-teknik:
1. Diskusi kelompok, yakni pembimbing melaksanakan bimbingan dengan cara mengadakan diskusi dengan / bersama kelompok klien yang mempunyai masalah yang sama.
2. Karya wisata, yakni bimbingan kelompok yang dilakukan secara langsung dengan mempergunakan ajang karya wisata sebagai forumnya.
3. Group teaching, yakni pemberian bimbingan / konseling dengan memberikan materi bimbingan / konseling tertentu kepada kelompok yang telah disiapkan.
Nilai lebih BK yaitu Klien belajar:
a. Memahami orang lain dan cara pandangnya
b. Mengembangkan penghargaan yang lebih dalam pada orla, terutama yang berbeda dengan dirinya
c. Mencapai ketrampilan sosial yang lebih besar
d. Berbagi dengan orang lain
e. Memperjelas masalah, pikiran, nilai dan ide melalui diskusi dengan orang lain
2. Proses BK kelompok
a. Tahap pembentukan kelompok (anggota kelompok)
Pemilihan anggota
1) Tujuan: agar tidak ada anggota yang mundur di tengah jalan
2) Syarat: memiliki kesamaan tema & taraf permasalahan, tujuan, usia/kematangan
3) Catatan: orang yang terlalu agresif, pemalu & memiliki gangguan penyesuaian diri berat tidak dapat dimasukkan kelompok
4) Besarnya kelompok: 6-12 orang/ klp
5) Rancangan frekuensi pertemuan: 1-2 kali seminggu
6) Lama sesi: anak F 30 -45 menit, remaja & dewasa F 90 menit
b. Tahap Involvement
1) Mempersiapkan anggota: perkenalan, interview awal
2) Konselor menjelaskan aturan main agar kelompok dapat berfungsi baik
3) Menentukan apakah kelompok bersifat terbuka/tertutup dan apakah keanggotaannya bersifat sukarela/ terpaksa
4) Tahap Transisi : merupakan tahap yang penuh konflik karena masing-masing klien masih menyesuaikan diri dengan anggota lainnya
5) .Tahap terapi (working stage): kelompok mulai kohesif (berpadu), kerjasama dapat dilakukan, masing-masing anggota sudah dapat memahami/ berempati pada anggota lain
6) Tahap akhir (ending stage): rangkuman /kesan/pesan dilakukan jika semua masalah telah selesai
BAB IV
MODEL-MODEL PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING
Teori yang mendasari model pelaksanaan bimbingan dan konseling kelompok:
A. Konseling Behavior
Tokoh yang bernama Arnold Lazarus, Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian utama dari para konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling.
B. Ciri-ciri Konseling Behavior
1 Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat dirubah.
2. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu dalam merubah perilaku-perilaku yang relevan; prosedurprosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku klien dengan merubah lingkungan.
3. Prinsip-prinsip belajar sosial, seperti misalnya “reinforcement” dan “social modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
4. Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan dalam perilaku-perilaku khusus klien diluar wawancara konseling.
5. Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap, atau ditentukan sebelumnya, tetapi dapat secara khusus didisain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus
Metode konseling behavior
(1) Operant Learning, pendekatan operant learning yang paling penting adalah penguatan (reinforcement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki
(2) Cognitive Learning, metode ini lebih menekankan pada aspek perubahan kognitif klien dalam upaya membentu klien dalam memecahkan masalahnya.
(3) Emotional learning, metode ini lebih menekankan aspek perubahan emosional klien
C. Operant Learning
Dalam menerapkan penguatan ini ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu:
(1) penguatan yang di terapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien,
(2) penguatan hendaknya dilaksanakan secara sistematis,
(3) konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana memberikan penguatan, dan
(4) konselor harus dapat merancang perilaku yang memerlukan penguatan.
Kognitif Learning :
Tujuan utama dalam metode kognitif adalah :
(1) membangkitkan pikiran-pikiran pasien, dialog internal atau bicara diri (self talk), dan interpretasi terhadap kehadian-kejadian yang dialami,
(2) konselor bersama klien mengumpulkan bukti yang mendukung atau menyanggah interpretasi yang telah diambil,
(3) menyusun dengan eksperimen (pekerjaan rumah) untuk menguji validitas interpretasi dan menjaring data tambahan untuk diskusi didalam proses perlakuan konseling.
Teknik Behavioristik
(1). Reinforment, digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal ataupun punishment,
(2) Social modeling, digunakan untuk menggambarkan perilaku –perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah
Rational-Emotive Therapy
Tokoh : ALBERT ELLIS
Konsep dasar teori ini adalah bahwa pola berpikir manusia itu sangat dipengaruhi oleh emosi, demikian pula sebaliknya.
Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan atau sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik. Sedangkan pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu pikiran seseorang
TRE beranggapan bahwa setiap manusia yang normal memiliki pikiran, perasaan dan perilaku yang ketiganya berlangsung secara simultan.
Pikiran mempengaruhi perasaan dan perilaku, perasaan mempengaruhi pikiran dan perilaku, perilaku mempengaruhi pikiran dan perasaan.
`3 Pilar yang membangun tingkah laku individu
a. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
b. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain.
c. Contoh : Perceraian dalam keluarga, kelulusan bagi siswa, dan putus hubungan
d. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB).
e. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan karena itu menjadi produktif .
f. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan karena itu tidak produktif.
g. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A).
h. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Tehnik emotif
Asertive training; digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan pola perilaku sesuai dengan yang diinginkannya,
(2) sosiodrama; digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan klien (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas mengungkapan dirinya sendiri baik secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis,
(3) self modeling, digunakan dengan meminta klien untuk berjanji atau mengadakan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
(4) imitasi, digunakan dimana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi perilakunya sendiri yang negatif.
Contoh Kasus : Siswanto sorang siswa suatu SMA di kota besar, program studi IPS. Dia tinggal bersama orang tuanya, yang mendukung cita-citanya menjadi seorang guru akutansi. Nilai rapornya rata-rata minimal 7. dalam usaha ini ia berhasil. Selain itu dia juga berhasil mengikat hati sorang siswi yang duduk dikelas yang sama, mereka backstreet karena orang tuanya belum mengizinkan berpacaran. Suatu saat orang tua siswi itu mengetahui hubungan mereka. Dan siswi itu memutuskan hubungan mereka. Siswanto jatuh ke lebah depresi dan berfikir : “apa gunanya meneruskan hidup di dunia ini?Akhirnya dia membolos sekolah seminggu. Ketika ia masuk kesekolah ia di panggil guru konselor
Langkah-langkah kerja :
1. Membangun hubungan pribadi dengan klien.
2. Mendengarkan dengan penuh perhatian ungkapan dan pikiran prabawa. Semangat belajarnya kurang karena ia diputuskan oleh pacarnya. Siswanto mengungkapkan masa depannya sangat suram dan tidak ada sumber inspirasi lagi yang mendukung cita-citanya menjadi guru akutansi (pikiran irrasional)
3. Mengadakan analisis kasus, mencari kaitan A,B,C
– kejadian yang dialami adalah terputusnya percintaan dengan gadis yang dikaguminya; yang memutuskan hubungan ialah pihak putri, dengan alasan dilarang ortu (A)
– kejadian ini ditanggapi pikiran irrasional (tidak masuk akal): “ini musibah besar, masa depan suram, siapa lagi yang memberi inspirasi kepadaku? (B.irasional)
– Sebagai akibat berfikir demikian, Siswanto mengalami gejolak emosinal. Seperti kehilangan semangat hidup, gairah belajar, putus asa (C.dalam alam perasaan).akibatnya ia bolos sekolah (C.perilaku nyata)
– Membantu Siswanto untuk menemukan Jalan keluar. Efek dari diskusi, Siswanto berubah pikiran dan memandang pengalaman ini dengan cara yang masuk akal.
– 5. Mengakhiri hubungan pribadi dengan Siswanto
BAB V
PROGRAM BK Di SEKOLAH
Berikut siklus yang tergambar dalam hubungan siswa kepada orang lain :
The caring teachers :
1. Respecfull
2. Understanding
3. Caring
4. Trustworthly
5. Accepting
6. Friendly
A. Need assessment (penilaian kebutuhan )
1. Penelaahan kebutuhan adalah proses analisis kesenjangan (jarak) antara keadaan atau posisi bimbingan atau konseling saat ini dan apa yang seharusnya ada. Penelahaan kebutuhan sering dikelompokan ke dalam dua kategori umum:
2. Penelahaan Kebutuhan Eksternal. Melihat kesenjangan antara outcome, sementara penelaahan kebutuhan internal mengidentifikasi kesenjangan dalam input, proses, produk dan output.
3. Penelahaan Kebutuhan Subjek Sasaran akan Bimbingan dan Konseling secara Internal.
4. Elemen-elemen pendidikan secara internal seharusnya dihubungkan kepada usaha-usaha organisasi
5. sekolah, yakni mengenai masalah input, masalah prosesnya serta hasil-hasil yang ingin dicapai, baik
6. berupa produk maupun output.
Langkah-langkah penelaahan kebutuhan yaitu : Mengidentifikasi apa yang ada, Mengidentifikasi apa yang seharusnya ada
a. Mempertemukan perbedaan antara apa yang ada dan seharusnya ada dalam sebuah matriks
b. Mengurutkan kebutuhan dalam skala prioritas
B. Tahap pelaksanaan
Tahap ini ditandai dengan:
1. Usaha guru pembimbing dengan kesungguhannya membimbing subjek (siswa).
2. Peran serta pihak-pihak pelaksana yang terkait secara sporadis terjadi dan dapat diamati.
3. Siswa mulai merasa bahwa ia (mereka) mendapat perhatian.
4. Ciri-ciri di atas diiringi oleh beberapa hambatan dan kesulitan, antara lain kesiapan siswa dan
5. personil pelaksana terutama dari pihak guru mata pelajaran, wali kelas dan seterusnya, begitu
6. memasuki kegiatan belajar mengajar catur wulan baru.
C. Tahap evaluais program
1. Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan. Karena tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengambil keputusan, maka konselor perlu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan hal-hal yang akan dievaluasi. Pertanyaan-pertanyaan itu pada dasarnya terkait dua aspek pokok yang dievaluasi yaitu : (1) tingkat keterlakasanaan program (aspek proses) dan (2) tingkat ketercapaian tujuan program (aspek hasil).
2. Mengembangkan atau menyusun instrumen pengumpul data. Untuk memperoleh data yang diperlukan yaitu mengenai tingkat keterlakasanaan dan ketercapaian program, maka konselor perlu menyusun instrumen yang relevan dengan kedua aspek tersebut. Instumen itu diantaranya inventori, angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan studi dokumentasi.
3. Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah data diperoleh maka data itu dianalisis, yaitu menelaah tentang program apa saja yang telah dan belum dilaksanakan, serta tujuan mana daja yang telah dan belum tercapai.
4. Melakukan tindak lanjut (follow up). Berdasarkan temuan yang diperoleh, maka dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan ini dapat meliputi dua kegiatan yaitu (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat atau kurang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai dan (2) mengembangkan program, dengan cara merubah atau menambah beberapa hal yanh dipandang dapat meningkatkan efektivitas atau kualitas program.
D. Menilai proses dan hasil
1. Mengembangkan Alat Ukur
Mengembangkan alat ukur atau instrumen dalam penanganan, mirip dengan mengembangkan alat ukur dalam mengukur hasil belajar, karena memang sumber pengembangannya berasal dari referensi yang sama, dengan penyesuaian-penyesuaian seperlunya. Oleh karena itu, ada sejumlah langkah yang harus ditempuh dalam menyusun alat ukur.
Langkah tersebut antara lain:
a. Menentukan sasaran penilaian. Maksudnya adalah apa tujuan dari penilaian, yakni ada sesuatu yang diinginkan yang perlu ditunjukkan oleh subjek (siswa).
b. Membuat tabel kisi-kisi. Maksudnya, mencanangkan tentang:
Ø rincian tujuan atau sasaran yang ingin dicapai.
Ø Rincian kegiatan bidang bimbingan.
Ø Materi pokok/sub materi pokok.
Ø Indikatornya.
Ø Teknik yang digunakan.
Ø Sumber data.
c. Membuat butir-butir alat ukur
2. Pembagian alat-alat tes menurut isi :
a. Tes hasil belajar
b. Tes kemampuan intelektual (intelligence test)
c. Tes kemampuan khusus (Vokasi, musikal,artistik dll)
d. Tes minat
e. Tes kepribadian
3. Alat-alat nontes
1. Angket tertulis
2. Wawancara informasi
3. Otobiografi (karangan yang ditulis oleh siswa mengenai riwayat hidupnya sampai sekarang
4. Anekdota (laporan singkat tentang prilaku sesorang pada saat tertentu)
5. Skala penilaian (skala numerik, skala penilaian grafis, daftar cek)
6. Sosiometri (memperoleh data hubungan sosial skala kecil/sedang)
7. Kunjungan rumah
8. Kartu pribadi
9. Studi kasus
E. Program BK
Program bimbingan dan konseling merupakan kegiatan layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilaksanakan pada periode tertentu
1. Materi program
Adalah Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode berisikan materi yang merupakan sinkronisasi dari unsur-unsur :
a. Tugas perkembangan siswa yang mendapatkan layanan
b. Bidang-bidang bimbingan (bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir)
c. Jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. ( layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok) dan konseling kelompok.
d. Materi-materi tersebut yang meliputi juga materi pendidikan budi pekerti, mengarah kepada pemahaman diri siswa dan lingkungannya. Serta pengembangan diri dan arah karir siswa
1) Sasaran : siswa yang akan dilibatkan dalam kegiatan
2) Tujuan : dirumuskan dalam bentuk kompetensi
3) Materi : isi kegiatan yang dapat mengarahkan tercpapainya kompetensi yang dimaksudkan
4) Metode : cara yang akan ditempuh untuk tercapainya kompetensi yang dimaksudkan
5) Waktu : kapan kegiatan dilakukan
6) Tempat : dimana kegiatan dilakukan
7) Penilaian : bagaimana hasil kegiatan dapat diukur dan diketahui
(a) Penilaian segera (laiseg), merupakan penilaian tahap awal yang dilakukan segera setelah atau menjelang diakhirnya layanan yang dimaksud.
b) Penilaian jangka pendek (laijapen), merupakan penilaian lanjutan yang dilakukan setelah satu (atau lebih) jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai paling lama satu bulan.
c) Penilaian jangka panjang (laijapang), merupakan penilaian lebih menyeluruh setelah dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu semester
DAFTAR PUSTAKA
Robert Gibson & Marianne. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010
Richard Nelson-Jones. Pengantar keterampilan Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012
Thohari Musnamar. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling Islami. Yogyakarta: UII Press, 1992
Ws.Winkel dan Sri Hastuti. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi: 2005
0 komentar:
Komentar yang sopan yaa :) gaboleh nakal komennya :)